Wednesday, 3 April 2013

Carpe Diem




 “Sebenarnya ku juga sayang sama kamu, tapi …”
tapi apa?”
tapi….”
 “kringggggggggggggg……!!!” Seperti hari-hari sebelumnya, bekerku berbunyi tepat pukul 4.25, membangunkan aku dari mimpi yang sedang seru-serunya. Selalu ada sepincuk penyesalan dalam hati akibat kebodohanku men-set alarm­ pada jam segitu. Malam terlalu cepat berlalu. Rasanya, ingin kembali menarik selimut macanku, kupeluk guling kemudian meneruskan mimpi yang tadi. Aku tahu mimpi yang belum kelar itu tidak dapat diteruskan kalau sudah bangun dan kalau dipaksakan kemungkinan yang paling besar aku akan berpindah ke episode mimpi yang lain atau akan muncul kejadian baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mimpiku sebelumnya. Jadi kuputuskan saja untuk bangun dari labirin imajinasi ini dan kembali bertarung dengan realita.
Ini hari jumat, 7 Januari 2011. Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Seperti biasa, aku berjongkok di atas otto­ setelah ku nyalakan sebatang rokok dan kemudian imajinasiku mulai menerawang jauh menembus ruang dan waktu menuju khayalan-khayalan yang yang tak jelas alurnya. Kemudian, sedikit demi sedikit mulai kususun rapih rencana- rencana untuk kurajai hari. Setelah itu, kulanjutkan dengan prosesi mandi besar. Karena ini hari jum’at, aku menyempatkan untuk mandi sebersih mungkin. Kugosok seluruh badanku sampai mengkilap.
Entah kenapa, dalam sudut hatiku tiba-tiba ada keinginan untuk sedikit bersolek. Selain hari ini adalah rajanya hari, memang hari ini adalah hari terakhir ujianku di kampus. Aku memakai kemeja kotak-kotak favoriteku berwarna putih biru. Celana jeans brutkat berwarna blue-black ini pun terlihat begitu matching dengan kemejaku. Kutata rapih rambutku dengan olesan Gatsby untuk meninggikan jambul rambutku agar tetap kokoh dan tak tergoyahkan. Tidak lupa kusemprotkan minyak wangi ke sekujur tubuhku. Belgio­ biru ini wanginya sangat lembut. Terasa seperti melayang jika kita menciumnya. Sama seperti pada iklannya di televisi. Lengkap sudah rasanya aku bersolek dan siap merajai hari. Setiap hari sebelum pergi dari rumah aku selalu berkata Carpe Diem, Memento Merri, sebagai sebuah niatan agar semangatku tetap terjaga dan optimisme tumbuh dalam setiap langkahku.
assalamualaikum, ian angkatnya mah !”
Kucium tangan ibu dan mulai berjalan keluar gang menuju pinggir trotoar di depan sebuah toko mas, tempat biasa aku  berdiri menunggu angkot. Hari ini terasa sungguh sangat segar. Langkah pastiku semakin tegap gempita, sepanjang jalan aku senyumi setiap orang yang melihat kearahku. Ku anggukan kepalaku dan sedikit ku pejamkan mata setelah ku pandangi mata orang-orang tersebut kemudian mereka membalasnya dengan senyuman pula. Betapa senang rasanya seperti ini. Damai, aman, nyaman dan bahagia.
Aku berdiri di pinggir jalan sekarang, di depan sebuah toko mas menunggu bapak supir menjemputku. Setiap hari selalu kutanamkan dalam otakku bahwa angkot­ itu adalah mobil pribadi ku. Sebuah teori menyebutkan bahwa sebenarnya alam itu dapat mendengar isi hati kita yang kemudian kekuatan pikiran kita akan memberikan sinyal magnetik yang dapat menarik imajinasi-imajinasi dan harapan-harapan itu menjadi sebuah kenyataan, katanya. Maka dari itu tidak ada salahnya untuk berimajinsi dari pada korupsi.
Dari kejauhan kulihat sebuah mobil berwarna krem dan di pinggirnya ada garis berwarna hijau. Kemudian ku lambaikan tanganku seperti sebuah remote control yang dapat secara otomatis memberhentikan mobil itu tepat di depanku. Lumayan padat kali ini, aku duduk di bagian bangku sebelah kanan setelah 2 orang di belakang pak supir. Di sebelah kiriku ada seorang wanita dewasa kira-kira 27 tahun yang kemungkinan dia adalah seorang pegawai Bank karena seragamnya yang khas. Di bagian belakang mobil ada 2 orang anak sekolah yang berhadapan dengan seorang ibu dan bapak-bapak berkumis itu yang memakai jaket jeans dengan kerah lengan yang di gulung se-sikut.
Tepat di depanku, terpampang seorang perempuan yang sangat anggun memakai seragam berlogo universitas yang sama dengan kampusku. Aku yakin dia adalah mahasiswa managemen pariwisata. Matanya besar dan bulat seperti  jengkol yang kumakan semalam. Warna pupilnya yang hitam dan sedikit kecoklatan itu sungguh sangat mempesona. Sorot matanya kuning langsat, laksana sinar matahari pagi ini yang hangat namun menyejukan. Bibirnya yang kecil dan sedikit tipi itu benar-benar indah, merah merekah dan sedikit bias warnanya yang menjadikanya sedikit berwarna merah muda. Bulu-bulu halus yang sangat sedikit di atas bibirnya itu menambah eksotisme dalam jiwanya. Rambutnya panjang, hitam dan lebat. Namun, pada ujung rambutnya sedikit ikal dan bergelombang tapi tidak seluruh rambutnya seperti itu hanya bagian-bagian tertentu saja. Make-up nya tidak tertalu tebal. Menurutku, dia memiliki sisi kewanitaan yang bijak dan sederhana karena komposisi bedak, eye shadow, mascara, bahkan eye linernya sungguh sangat pas dan tidak berlebihan.
Kupandangi semakin dalam, kuperhatikan setiap gerak-geriknya. Imajinasiku melayang jauh di alam sana. Aku teringat kembali mimpiku semalam. Aku berniat akan ku-save ­setiap moment indah ini dan akan ku download untuk imajinasi malam nanti. Tiba- tiba aku tersadar. Imajinasiku terhenti dan jiwaku mulai terseret kembali kepada realita. Aku melihat di sekelilingku berharap tidak ada seorang pun melihat aksiku tadi.
***
Setengah perjalanan sudah, sekarang angkot yang membawaku berhenti di pinggir trotoar jalan setelah perempatan menuju Jl. Dr. Setyabudhi.
“Lama”. Dalam hatiku bergumam.
Tanpa sadar pandanganku terganggu oleh sorot mata setiap penumpang yang ada di sekelilingku. Mereka menatapku dengan tatapan curiga dan penuh penasaran terhadapku. Aku heran dan berfikir apa yang salah denganku. Namun, seketika semangat juang dan kepercayaan diriku kembali timbul.
 “Carpe Diem, Memento Moribisiku dalam diam.
Aku kemudian memejamkan mata dan berimajinasi lagi kemudian muncul dengan sebuah kesimpulan bahwa tatapan mereka seperti itu terhdapku karena mereka kagum dan terpesona. Metode bersolek ala majalah yang kubaca kemarin rupanya berhasil.
Setelah beberapa saat angkot yang kunaiki kembali melaju. Jarak sudah semakin dekat dengan kampus. Aku menguap, mungkin karena aku kelelahan karena semalam telah kucumbu dewi malam sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahku yang telah menumpuk. Ketika aku menutup mulut dengan kedua tanganku tiba-tiba aku tersentak. Aku kaget ketika menyentuh bagian bawah hidungku, tepat di bawah lubang-lubang itu. Aku merasakan ada sesuatu yang kasar disana. Setalah kucoba untuk meraba-raba demi memastikan apa yang sebenarnya menempel disitu. Dapat kupastikan bahwa sesuatu yang kasar itu ternyata sudah mengkerak.
Aku sangat terpukul dan kepercayaan hancur. Jelas aku sadari bahwa itu adalah upilku yang sudah mengerak bahkan mengkristal bagaikan butiran intan yang menjadi pusat perhatian. Hatiku meracau, bergejolak perasaanku bertempur saling menyalahkan antara hati, tangan dan mata bahkan yang paling di salahkan adalah otaku yang telah lupa mengedit kembali penampilanku di depan kaca tadi pagi. Bagaimana bisa aku tetap percaya diri sementara setumpuk benda menjijikan itu menempel di wajahku.
Cepat cepat ku ambil jurus seribu tangan yang dengan seketika ku keruk semua kerak yang menempel itu. Lalu ku peperkan kepada celanaku dengan diam-diam. Sembari aku melakukanya, kualihkan pandanganku secepat kilat dan kutatap orang-orang di sekelilingku satu persatu untuk memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang melihat phenoma ini.
Dalam hatiku mulai timbul curiga. Imajiku kembali menerawang mencari suatu jawaban tentang alasan mereka menatapaku dengan sorot mata seperti itu.
jangan-jangan mereka…..” aku bergumam.
Kemuadian ku perhatikan lagi sorot mata-mata itu. Ternyata mereka seketika memalingkan muka dan tidak menatapku lagi. Dari gerak gerik mereka aku tahu bahwa mereka sebenarnya menahan tawa sekuat tenaga. Rupanya dugaanku benar, sepanjang jalan tadi mereka memperhatikan sejumput benda menjijikan itu.
“Sudah basah mandi sekalian” kata sebuah pepatah. Walaupun hal bodoh tadi telah menghancurkan hatiku namun sebenarnya telah membakar semangat ketidakmaluanku akan hal itu. Mataku tertuju pada perempuan cantik itu lagi. Dia terlihat sangat cantik dengan menahan tawa seperti itu. Tangannya menutupi mulutnya dan matanya sesekali metapku. Dia tidak bisa mengelak seperti orang lain yang memalingkan muka karena dia tepat di hadapanku dan isi muatan dalam angkot itu sudah penuh.
Kuniatkan untuk menggodanya. Aku menatapnya dengan senyuman nakalku. Aku membuka mataku sedikit menerawang menembus sorot matanya yang indah itu. kusiratkan kata-kata dalam tatapanku padanya.
I got you, baby!,
Semakin lama semakin dalam. Kerlipan matanya sesekali menambah keganasanku untuk menggodanya. Lalu kuputuskan untuk berkata padanya.
“ Teh,  kalo mau ketawa mah jangan di tahan bisi kentut”.
Hahahaha,
Dia tertawa dengan manisnya. Bibirnya merekah. Matanya indahnya membelalak berputar dari kiri kekanan. Kemudian dia segera menutup mulutnya kembali dengan rambut yang terbawa sedikit. Menunduk dan menahan tawa sekuat tenaga. Kakinya begerak-gerak kegemasan menginjak-injak lantai angkot.
Si aa…. Kok bisa sih?” dia bertanya.
bisa apa teh?”. Aku balik bertanya.
Dia kembali menahan tawanya yang manis itu.
Tak terasa aku sudah berada di depan kampus.
kiri-kiri” sahutku kepada pak supir.
Aku kemudian turun dari angkot dan berjalan di samping perempuan itu yang masih menahan tawa. Sepanjang jalan kami hanya terdiam. Pikiranku menerawang menembus labirin imajinasi perempuan itu. Menelusuri ruang nyaman di pikiranya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan terhadapku setelah semua kejadian konyol di angkot. Tak terasa aku sudah sampai di fakultasku.sedih rasanya aku harus berpisah denganya.
Kesokan harinya aku bertemu lagi dengan senyuman manis itu di kopma, sebuah kantin dekat fakultasku. Aku tidak kuasa menahan hasratku untuk menyapanya. Ku beranikan diri untuk menyapanya.
“ Eh, si teteh…” sapaku padanya
“eh, si aa upil. Ahahahahaha…..” dia tertawa kegirangan bersama teman-temanya.
            Aku malu tak bisa berkutik dan melakukan apa-apa lagi. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan kusiratkan lagi isi hatiku dalam sorot mataku padanya.
kamu Fyan kan? Aku Gadis” perempuan itu menyodorkan tanganya kepadaku.
Perempuan itu berlalu pergi sambil terus tertawa sepanjang jalan dengan teman-temanya. Setelah beberapa jauh dia membalikan badanya. Menatapku dan memberiku senyuman manis itu. hangat dan menyejukan.
***