“Sebenarnya ku juga sayang sama kamu, tapi …”
“tapi apa?”
“tapi….”
“kringggggggggggggg……!!!” Seperti hari-hari
sebelumnya, bekerku berbunyi tepat pukul 4.25, membangunkan aku dari mimpi yang
sedang seru-serunya. Selalu ada sepincuk
penyesalan dalam hati akibat kebodohanku men-set alarm pada jam segitu. Malam terlalu cepat berlalu. Rasanya,
ingin kembali menarik selimut macanku, kupeluk guling kemudian meneruskan mimpi yang tadi. Aku tahu mimpi yang belum
kelar itu tidak dapat diteruskan kalau sudah bangun dan kalau dipaksakan kemungkinan yang paling besar aku akan berpindah ke episode mimpi yang lain atau akan muncul kejadian baru yang sama
sekali tidak ada hubungannya dengan mimpiku sebelumnya. Jadi kuputuskan saja
untuk bangun dari labirin imajinasi ini dan kembali bertarung dengan realita.
Ini
hari jumat, 7 Januari 2011. Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar
mandi. Seperti biasa, aku berjongkok di atas otto setelah ku nyalakan sebatang rokok dan kemudian imajinasiku mulai menerawang jauh menembus ruang dan waktu
menuju khayalan-khayalan yang yang tak jelas alurnya. Kemudian, sedikit demi
sedikit mulai kususun rapih rencana- rencana untuk kurajai hari. Setelah itu,
kulanjutkan dengan prosesi mandi besar. Karena ini hari jum’at, aku
menyempatkan untuk mandi sebersih mungkin. Kugosok seluruh badanku sampai
mengkilap.
Entah
kenapa, dalam sudut hatiku tiba-tiba ada keinginan untuk sedikit bersolek.
Selain hari ini adalah rajanya hari, memang hari ini adalah hari terakhir
ujianku di kampus. Aku memakai kemeja kotak-kotak favoriteku berwarna putih biru. Celana jeans brutkat berwarna blue-black ini pun terlihat begitu matching dengan kemejaku. Kutata rapih
rambutku dengan olesan Gatsby untuk
meninggikan jambul rambutku agar tetap kokoh dan tak tergoyahkan. Tidak lupa kusemprotkan minyak wangi ke sekujur
tubuhku. Belgio biru ini wanginya
sangat lembut. Terasa seperti melayang jika kita menciumnya. Sama seperti pada
iklannya di televisi. Lengkap sudah rasanya aku bersolek dan siap merajai hari.
Setiap hari sebelum pergi dari rumah aku selalu berkata Carpe Diem, Memento Merri, sebagai sebuah niatan agar semangatku tetap terjaga dan optimisme
tumbuh dalam setiap langkahku.
“assalamualaikum, ian angkatnya mah !”
Kucium
tangan ibu dan mulai berjalan keluar gang menuju pinggir trotoar di depan sebuah toko mas,
tempat biasa aku berdiri menunggu
angkot. Hari ini terasa sungguh sangat segar. Langkah pastiku semakin tegap gempita,
sepanjang jalan aku senyumi setiap orang yang melihat kearahku. Ku anggukan
kepalaku dan sedikit ku pejamkan mata setelah ku pandangi mata orang-orang
tersebut kemudian mereka membalasnya dengan senyuman pula. Betapa senang
rasanya seperti ini. Damai, aman, nyaman dan bahagia.
Aku
berdiri di pinggir jalan sekarang, di depan sebuah toko mas menunggu bapak
supir menjemputku. Setiap hari selalu kutanamkan dalam otakku bahwa angkot itu adalah mobil pribadi ku. Sebuah
teori menyebutkan bahwa sebenarnya alam itu dapat mendengar isi hati kita yang
kemudian kekuatan pikiran kita akan memberikan sinyal magnetik yang dapat
menarik imajinasi-imajinasi dan harapan-harapan itu menjadi sebuah kenyataan,
katanya. Maka dari itu tidak ada
salahnya untuk berimajinsi dari pada korupsi.
Dari
kejauhan kulihat sebuah mobil berwarna krem
dan di pinggirnya ada garis berwarna hijau. Kemudian ku lambaikan tanganku
seperti sebuah remote control yang
dapat secara otomatis memberhentikan mobil itu tepat di depanku. Lumayan padat
kali ini, aku duduk di bagian bangku sebelah kanan setelah 2 orang di belakang
pak supir. Di sebelah kiriku ada seorang wanita dewasa kira-kira 27 tahun yang
kemungkinan dia adalah seorang pegawai Bank karena seragamnya yang khas. Di
bagian belakang mobil ada 2 orang anak sekolah yang berhadapan dengan seorang
ibu dan bapak-bapak berkumis itu yang memakai jaket jeans dengan kerah lengan
yang di gulung se-sikut.
Tepat
di depanku, terpampang seorang perempuan yang sangat anggun memakai seragam
berlogo universitas yang sama dengan kampusku. Aku yakin dia adalah mahasiswa
managemen pariwisata. Matanya besar dan bulat seperti jengkol yang kumakan semalam. Warna pupilnya
yang hitam dan sedikit kecoklatan itu sungguh sangat mempesona. Sorot matanya
kuning langsat, laksana sinar matahari pagi ini yang hangat namun menyejukan.
Bibirnya yang kecil dan sedikit tipi itu benar-benar indah, merah merekah dan
sedikit bias warnanya yang menjadikanya sedikit berwarna merah muda. Bulu-bulu halus yang
sangat sedikit di atas bibirnya itu menambah eksotisme dalam jiwanya. Rambutnya
panjang, hitam dan lebat. Namun, pada ujung rambutnya sedikit ikal dan
bergelombang tapi tidak seluruh rambutnya seperti itu hanya bagian-bagian
tertentu saja. Make-up nya tidak
tertalu tebal. Menurutku, dia memiliki sisi kewanitaan yang bijak dan sederhana
karena komposisi bedak, eye shadow,
mascara, bahkan eye linernya
sungguh sangat pas dan tidak berlebihan.
Kupandangi
semakin dalam, kuperhatikan setiap gerak-geriknya. Imajinasiku melayang jauh di
alam sana. Aku teringat kembali mimpiku semalam. Aku berniat akan ku-save setiap moment indah ini dan akan ku download untuk imajinasi malam nanti. Tiba- tiba aku tersadar. Imajinasiku
terhenti dan jiwaku mulai terseret kembali kepada realita. Aku melihat di
sekelilingku berharap tidak ada seorang pun melihat aksiku tadi.
***
Setengah
perjalanan sudah, sekarang angkot yang membawaku berhenti di pinggir trotoar
jalan setelah perempatan menuju Jl. Dr. Setyabudhi.
“Lama”. Dalam hatiku
bergumam.
Tanpa
sadar pandanganku terganggu oleh sorot mata setiap penumpang yang ada di
sekelilingku. Mereka menatapku dengan tatapan curiga dan penuh penasaran
terhadapku. Aku heran dan berfikir apa yang salah denganku. Namun, seketika
semangat juang dan kepercayaan diriku kembali timbul.
“Carpe
Diem, Memento Mori” bisiku
dalam diam.
Aku
kemudian memejamkan mata dan berimajinasi lagi kemudian muncul dengan sebuah
kesimpulan bahwa tatapan mereka seperti itu terhdapku karena mereka kagum dan
terpesona. Metode bersolek ala majalah yang kubaca kemarin rupanya berhasil.
Setelah
beberapa saat angkot yang kunaiki kembali melaju. Jarak sudah semakin dekat
dengan kampus. Aku menguap, mungkin karena aku kelelahan karena semalam telah
kucumbu dewi malam sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahku yang telah menumpuk.
Ketika aku menutup mulut dengan kedua tanganku tiba-tiba aku tersentak. Aku
kaget ketika menyentuh bagian bawah hidungku, tepat di bawah lubang-lubang itu.
Aku merasakan ada sesuatu yang kasar disana. Setalah kucoba untuk meraba-raba
demi memastikan apa yang sebenarnya menempel disitu. Dapat kupastikan bahwa
sesuatu yang kasar itu ternyata sudah mengkerak.
Aku
sangat terpukul dan kepercayaan hancur. Jelas aku sadari bahwa itu adalah upilku
yang sudah mengerak bahkan mengkristal bagaikan butiran intan yang menjadi
pusat perhatian. Hatiku meracau, bergejolak perasaanku bertempur saling menyalahkan
antara hati, tangan dan mata bahkan yang paling di salahkan adalah otaku yang
telah lupa mengedit kembali penampilanku di depan kaca tadi pagi. Bagaimana bisa aku tetap percaya diri sementara setumpuk
benda menjijikan itu menempel di wajahku.
Cepat
cepat ku ambil jurus seribu tangan yang dengan seketika ku keruk semua kerak yang menempel itu. Lalu ku
peperkan kepada celanaku dengan diam-diam. Sembari aku melakukanya, kualihkan
pandanganku secepat kilat dan kutatap orang-orang di sekelilingku satu persatu
untuk memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang melihat phenoma ini.
Dalam
hatiku mulai timbul curiga. Imajiku kembali menerawang mencari suatu jawaban
tentang alasan mereka menatapaku dengan sorot mata seperti itu.
“jangan-jangan
mereka…..” aku bergumam.
Kemuadian
ku perhatikan lagi sorot mata-mata itu. Ternyata mereka seketika memalingkan
muka dan tidak menatapku lagi. Dari gerak gerik mereka aku tahu bahwa mereka
sebenarnya menahan tawa sekuat tenaga. Rupanya dugaanku benar, sepanjang jalan
tadi mereka memperhatikan sejumput benda menjijikan itu.
“Sudah basah mandi sekalian” kata sebuah pepatah. Walaupun hal bodoh tadi
telah menghancurkan hatiku namun sebenarnya telah membakar semangat ketidakmaluanku
akan hal itu. Mataku tertuju pada perempuan cantik itu lagi. Dia terlihat
sangat cantik dengan menahan tawa seperti itu. Tangannya menutupi mulutnya dan matanya sesekali
metapku. Dia tidak bisa mengelak seperti orang lain yang memalingkan muka karena dia tepat di
hadapanku dan isi muatan dalam angkot itu sudah penuh.
Kuniatkan
untuk menggodanya. Aku menatapnya dengan senyuman nakalku. Aku membuka mataku
sedikit menerawang menembus sorot matanya yang indah itu. kusiratkan kata-kata
dalam tatapanku padanya.
“ I got you, baby!”,
Semakin
lama semakin dalam. Kerlipan matanya sesekali menambah keganasanku untuk
menggodanya. Lalu kuputuskan untuk berkata padanya.
“
Teh, kalo mau ketawa mah jangan di tahan
bisi kentut”.
“
Hahahaha”,
Dia
tertawa dengan manisnya. Bibirnya merekah. Matanya indahnya membelalak berputar
dari kiri kekanan. Kemudian dia segera menutup mulutnya kembali dengan rambut
yang terbawa sedikit. Menunduk dan menahan tawa sekuat tenaga. Kakinya
begerak-gerak kegemasan menginjak-injak lantai angkot.
“
Si aa…. Kok bisa sih?” dia bertanya.
“bisa
apa teh?”. Aku balik bertanya.
Dia
kembali menahan tawanya yang manis itu.
Tak
terasa aku sudah berada di depan kampus.
“kiri-kiri”
sahutku kepada pak supir.
Aku kemudian turun
dari angkot dan berjalan di samping perempuan itu yang masih menahan tawa.
Sepanjang jalan kami hanya terdiam. Pikiranku menerawang menembus labirin
imajinasi perempuan itu. Menelusuri ruang nyaman di pikiranya untuk mencari
tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan terhadapku setelah semua kejadian konyol
di angkot. Tak terasa aku sudah sampai di fakultasku.sedih rasanya aku harus
berpisah denganya.
Kesokan harinya aku
bertemu lagi dengan senyuman manis itu di kopma, sebuah kantin dekat
fakultasku. Aku tidak kuasa menahan hasratku untuk menyapanya. Ku beranikan
diri untuk menyapanya.
“ Eh, si teteh…”
sapaku padanya
“eh, si aa upil.
Ahahahahaha…..” dia tertawa kegirangan bersama teman-temanya.
Aku
malu tak bisa berkutik dan melakukan apa-apa lagi. Aku hanya bisa membalasnya
dengan senyuman dan kusiratkan lagi isi hatiku dalam sorot mataku padanya.
“kamu Fyan kan? Aku Gadis” perempuan itu menyodorkan
tanganya kepadaku.
Perempuan
itu berlalu pergi sambil terus tertawa sepanjang jalan dengan teman-temanya.
Setelah beberapa jauh dia membalikan badanya. Menatapku dan memberiku senyuman
manis itu. hangat dan menyejukan.
***
